Nice Social Bookmark

Facebook IMSAGoogle BookmarksIMSA TVPinterest

Ditulis Oleh: Agus Sofyan

Bencana alam yang sering terjadi akhir-akhir ini sudah sepatutnya dicermati dan dikaji dengan hati-hati dengan rasa kepedulian yang tinggi. Umumnya suatu bencana tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi diawali oleh kegiatan tertentu yang membuat lingkungan di daerah bencana tersebut menjadi labil. Sebagai contoh, banjir besar yang menimpa beberapa wilayah Indonesia, terutama Jawa Timur akhir-akhir, kemungkinan diakibatkan oleh rusaknya lingkungan di sekitar daerah banjir tersebut dan juga rusaknya lingkungan secara global.
 
Kerusakan lingkungan tersebut dapat berupa kerusakan di wilayah tangkapan air akibat penebangan pohon, kerusakan daerah aliran sungai (DAS) akibat erosi dan pendangkalan, kerusakan daerah muara sungai akibat pelumpuran, hingga rusaknya hutan dunia yang menyebabkan perubahan iklim secara global. Kerusakan-kerusakan di atas umumnya disebabkan oleh ulah manusia yang kurang bertanggung jawab dan kurang memahami konsep daya dukung dan daya lenting lingkungan.

Daya dukung lingkungan adalah kemampuan maksimal suatu lingkungan untuk mendukung kehidupan, sedangkan daya lenting adalah kemampuan suatu lingkungan untuk kembali ke fungsi normal dalam mendukung kehidupan setelah terjadi kerusakan atau tekanan. Daya dukung dan daya lenting lingkungan umumnya terbatas. Apabila tekanan atau kerusakan yang terjadi berlangsung secara terus menerus maka daya dukung dan daya lenting lingkungan akan terlampaui sehingga lingkungan tersebut tidak mampu mendukung kehidupan dan tidak mampu kembali berfungsi secara normal. Pada kondisi seperti inilah kemudian bencana biasanya akan muncul.

Manusia merupakan faktor utama perusak lingkungan. Kegiatan manusia cenderung lebih mementingkan faktor ekonomi dan mengesampingkan lingkungan. Sehingga tidak mengherankan apabila lingkungan dijadikan sebagai sapi perah yang terus menerus diambil susunya tanpa diperhatikan kesehatannya. Apabila telah habis diperah (rusak), maka lingkungan tersebut akan ditinggalkan. Selanjutnya manusia akan mencari lingkungan yang lain yang masih segar dan sehat untuk kemudian diperah dan ditelantarkan. Kejadian tersebut terjadi secara berulang-ulang yang mengakibatkan meluasnya kerusakan lingkungan. Sejarah mencatat bahwa tingkat kerusakan lingkungan saat ini meningkat hampir seribu kali lipat dibandingkan pada jaman sebelum peradaban manusia.

Bukan merupakan rahasia lagi bahwa hutan dunia terutama hutan tropis telah hancur sehingga hanya tersisa sebagian kecil saja. Dapat dibayangkan ribuan bahkan jutaan jenis makhluk hidup yang musnah karenanya. Bahkan banyak sekali jenis mahkluk hidup yang belum pernah kita jumpai yang ikut musnah didalamnya. Banyak diantara mereka mungkin mempunyai kegunaan yang sangat besar, misalnya sebagai penahan erosi dan banjir. Selain itu, kerusakan hutan dunia tersebut telah menyebabkan perubahan iklim secara global yang berimbas pada perubahan pola putaran angin, curah hujan, dan musim. Perubahan-perubahan tersebut umumnya bersifat negatif artinya menyebabkan banyak bencana karena kondisi alam yang kurang kondusif menerima perubahan yang relatif cepat dan tidak diharapkan tersebut.

Memanfatkan dan menjaga lingkungan adalah ibarat dua sisi mata uang yang selalu berdampingan dan tak dapat dipisahkan. Ke dua sisi mata uang tersebut secara bersama-sama menentukan nilai mata uang yang dikandungnya. Lingkungan yang tidak dimanfaatkan akan menjadi mubazir karena akan hilang nilainya. Sebaliknya lingkungan yang tidak dijaga juga akan menjadi rusak dan hilang nilainya. Pemanfaatan yaang berkelanjutan (sustainable utilization) dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) adalah dua istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan hubungan tersebut. Baik pemanfaatan atau pembangunan yang berkelanjutan menitik beratkan pada usaha pemanfaatan lingkungan dengan bijaksana yaitu sesuai dengan daya dukung dan daya lenting lingkungan tersebut. Berdasarkan konsep berkelanjutan tersebut, lingkungan tidak dieksploitasi secara berlebihan. Selalu ada bagian lingkungan tersebut yang dijaga dan dihijaukan kembali sebagai usaha mengembalikan fungsi lingkungan secara alami.

Lingkungan seharusnya diberlakukan seperti sahabat. Suatu kelaziman bahwa sahabat yang diperlakukan dengan baik akan berusaha memperlakukan kita dengan baik pula. Kita dapat mengambil manfaat dari alam tanpa harus membuat kerusakan di dalamnya. Dibutuhkan kemauan dan usaha kita untuk berbuat kebajikan kepada lingkungan sehingga lingkunganpun akan membalasnya dengan menyediakan keperluan yang kita butuhkan plus rasa aman dan tentram dari kemungkinan bencana alam. Penanaman pohon budidaya, misalnya, tidaklah selalu harus menggusur tumbuhan liar yang telah bertahun-tahun menjadi benteng penahan bencana alam. Tanaman budidaya seperti kopi dapat ditanam di sela-sela tumbuhan liar di lereng-lereng gunung atau bukit seperti dilakukan di Negara Puerto Rico, Amerika Selatan. Konsep tersebut terbukti sangat ampuh mencegah banjir dan longsor sekaligus menghasilkan devisa bagi negara kepulaun kecil tersebut. Win win solution!, istilahnya.

Konsep perkebunan yang bercampur dengan hutan liar tersebut mungkin layak dicoba di negara kita, terutama pada hutan-hutan penyanggah sekitar kota atau perkampungan. Banyak keuntungan yang akan didapat, salah satunya adalah masyarakat akan menjaga hutan penyanggah tersebut secara serius karena selain dapat mereka manfaatkan juga menjadi penjaga dari bencana. Memang perlu bersusah payah sedikit, namun lebih aman daripada menggusur hutan kemudian memanen bencana. Bersakit-sakit ke hulu berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Selamat mencoba!